MOROWALI UTARA — Memasuki musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, mulai meningkat. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api, terutama di kawasan yang kondisi lahannya sudah kering.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul sejumlah kejadian Karhutla yang terjadi di beberapa wilayah Morowali Utara dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi cuaca yang panas dan minimnya curah hujan membuat api lebih mudah menyebar apabila tidak segera ditangani, Sabtu (29/8/2026).
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah secara sembarangan, terlebih di sekitar lahan kering, semak belukar maupun kawasan yang berdekatan dengan hutan.
Selain itu, warga yang hendak membuka lahan diimbau tidak menggunakan metode pembakaran. Cara tersebut dinilai berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, khususnya saat kondisi vegetasi dalam keadaan kering.
Salah satu kejadian Karhutla terjadi di Desa Mandula, Kecamatan Lembo Raya, Morowali Utara, Kamis (27/8/2026). Kebakaran melanda kawasan hutan dan lahan tidur yang berada di wilayah tersebut.
Kebakaran diketahui sekitar pukul 10.30 WITA setelah masyarakat melaporkan adanya titik api. Laporan tersebut kemudian segera ditindaklanjuti oleh personel Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 825/Garuda Yudha Sakti.
Menerima laporan tersebut, Yonif TP 825/GYS langsung menurunkan satu peleton personel untuk membantu proses pemadaman. Personel TNI kemudian berkoordinasi dan bekerja sama dengan pihak Kepolisian serta petugas Pemadam Kebakaran.
Upaya pemadaman dilakukan secara bersama-sama untuk mencegah api meluas ke wilayah lain. Setelah berjibaku selama beberapa jam, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.00 WITA.
Komandan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 825/Garuda Yudha Sakti (Danyonif TP 825/GYS), Letkol Inf Alkomar, S.I.P., M.Tr. (Mil), mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan wilayah Morowali Utara dengan tidak membakar sampah sembarangan maupun membuka lahan dengan cara membakar. Ia mengingatkan agar kewaspadaan ditingkatkan, terutama di kawasan hutan yang telah mengalami kekeringan karena saat ini sudah memasuki musim kemarau dan potensi kebakaran semakin besar.
Danyonif menegaskan, pencegahan Karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani secepat mungkin sebelum kebakaran meluas. (Niken Tamauka)









