Morowali Utara – Banjir yang kerap terjadi di aliran Sungai Tambalako, Desa Mohoni, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara, diduga kuat dipicu penyempitan dan pendangkalan sungai. Kondisi ini semakin parah ketika curah hujan tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Penyempitan dan pendangkalan aliran sungai disebut terjadi akibat adanya aktivitas pertambangan di sekitar Sungai Tambalako. Saat musim penghujan, sisa material tambang terbawa arus lalu menumpuk di bagian aliran sungai hingga menutup sebagian badan sungai.
Akibatnya, air sungai tidak dapat mengalir secara normal dan meluap ke pemukiman maupun jalan setempat. Pendangkalan menjadi salah satu pemicu utama lambatnya aliran air saat debit meningkat di musim hujan.
Selain memicu banjir, kondisi tersebut menyebabkan terjadinya erosi dan longsor di sisi bantaran sungai. Material longsor semakin mempersempit ruang air sungai dan memperburuk kerusakan lingkungan di sekitar aliran Sungai Tambalako.
Banjir yang terjadi juga kerap menggenangi akses jalan penghubung dua desa, yakni Desa Mohoni dan Desa Bimor Jaya. Hal ini berdampak pada aktivitas harian masyarakat, termasuk pekerja, pelajar, hingga pengusaha lokal yang melintas di jalur tersebut.
Tak hanya itu, banjir besar yang pernah terjadi beberapa waktu lalu bahkan sempat memutus total akses jalan antardesa tersebut. Kondisi itu membuat warga terisolasi sementara dan akses transportasi terganggu total.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat dua perusahaan yang memiliki izin usaha pertambangan (IUP) di wilayah tersebut, yaitu PT GENBA dan PT Enersteel. Sementara itu, PT Enersteel diketahui sedang dalam proses perpanjangan RKAB dan terdapat beberapa subkontraktor tambang yang juga beroperasi di area tersebut.
Kepala Desa Mohoni, Bartonius Bate, saat dikonfirmasi, membenarkan bahwa banjir yang terjadi di wilayahnya bukan hanya karena faktor hujan semata, tetapi juga akibat pendangkalan sungai.
“Kami berharap ada perhatian dari pihak perusahaan maupun pemerintah daerah untuk mencari solusi, karena kondisi ini sudah sangat mengganggu masyarakat,” ujarnya.
Warga berharap agar penanganan komprehensif segera dilakukan, termasuk normalisasi sungai agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan datang. Pemerintah, pihak perusahaan, serta masyarakat diminta duduk bersama mencari solusi permanen demi mencegah dampak lebih besar di kemudian hari. JEM











