MOROWALI UTARA, KOLONODALE – Tanaman sorgum mulai dikembangkan secara serius di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Penggagas pengembangan sorgum di Morut, Laxmi Lanasir, S.Sos., MM, menyebut sekitar 80 persen wilayah Morowali Utara memiliki potensi optimal untuk pengembangan tanaman pangan tersebut.
Laxmi mengatakan, perjuangan mengembangkan sorgum di Morowali Utara telah dimulai sejak 2022. Saat itu, ia bersama Hj. Aneke, Ketua LKPN, mulai menghadirkan tanaman sorgum melalui pendataan petani di 10 kecamatan, sosialisasi di tujuh kecamatan, serta penanaman perdana melalui demplot atau uji lahan, Selasa (6/10/2026).
“Demplot kami lakukan di 10 kecamatan dengan luas lahan sekitar 10 kali 20 meter per desa. Dari uji coba itu, kami bisa melihat potensi hasil dalam satu hektare sekaligus mengetahui lahan mana yang memberikan pertumbuhan sorgum secara maksimal,” kata Laxmi.
Dari hasil pengujian tersebut, Laxmi menyebut sekitar 80 persen wilayah Morowali Utara dinilai memiliki potensi optimal untuk tanaman sorgum. Salah satu wilayah yang menunjukkan hasil cukup baik adalah Kecamatan Soyojaya, yang memiliki kesiapan lahan luas, dukungan fasilitas pengairan serta petani yang dinilai ulet dalam mengembangkan tanaman tersebut.
Menurut Laxmi, dalam satu hektare lahan di Soyojaya, sorgum dapat menghasilkan sekitar empat hingga lima ton gabah. Hasil tersebut diperoleh dari tanaman yang disebutnya dapat tumbuh secara alami dengan perawatan yang relatif minim.
Laxmi saat ini menjabat sebagai Ketua SEPASI Sulteng, lembaga pembinaan petani sorgum yang merupakan singkatan dari Sejati Petani Sorgum Indonesia. Melalui SEPASI, pembinaan dilakukan untuk mendorong petani mengenal, menanam, mengembangkan hingga mengolah sorgum menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Selain SEPASI, pengembangan sektor agribisnis juga didukung PT Mori Agri Sentosa atau PT MAS yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan hilirisasi produk. Perusahaan yang berdiri pada 2023 tersebut dipimpin Astrid Julivanti Posawa, SE., M.Ak. dan diarahkan pada aspek permodalan serta pemasaran.
Laxmi mengatakan, perjuangan mengembangkan sorgum dilakukan secara mandiri dan dimulai dari desa ke desa. Berbagai kegiatan sosialisasi, pembinaan, pameran serta koordinasi telah dilakukan, baik dengan pemerintah daerah, legislatif, dinas terkait, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, KADIN, HIPMI, Perusda maupun pihak swasta.
“Perjuangan ini dimulai sejak 2022. Waktu itu kami masih menggunakan masker karena pandemi Covid-19. Yang penting, di 10 kecamatan kami sudah melakukan uji coba,” ujar Laxmi.
Koordinasi tersebut, kata dia, dilakukan untuk membuka akses permodalan dan pemasaran produk sorgum. Namun, menurut Laxmi, upaya tersebut belum mendapatkan tanggapan positif seperti yang diharapkan. Ia kemudian terus melakukan pencarian hingga akhirnya memperoleh jaringan pemasaran dan investor secara mandiri.
Saat ini, permintaan gabah sorgum disebut telah datang dari sejumlah daerah, di antaranya Manado, Surabaya dan Jakarta. Produk tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan dasar sorgum.
Untuk memperkuat rantai usaha petani, Laxmi bersama tim juga telah membentuk Koperasi Tani Sorgum Sulteng yang berkantor di Palu. Koperasi tersebut diproyeksikan menjadi wadah kerja sama dengan Koperasi Desa Merah Putih di Sulawesi Tengah, khususnya dalam penyediaan beras sorgum, tepung sorgum dan berbagai produk olahan lainnya.
Program hilirisasi yang telah dikembangkan mencakup pakan ayam atau burung, kopi sorgum, beras dan tepung sorgum. Selain itu, pembinaan juga diberikan kepada UMKM untuk menghasilkan kue kering, kue basah, gula cair sorgum, hiasan sorgum, keripik serta berbagai jenis makanan ringan berbahan sorgum.
Laxmi berharap pengusaha pertambangan di Morowali Utara dapat ikut bekerja sama dengan petani dan UMKM, khususnya dalam pengembangan komoditas sorgum. Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Morowali Utara dan DPRD Morut memberikan kesempatan untuk melakukan audiensi guna memaparkan secara langsung program pengembangan sorgum.
Menurut Laxmi, sorgum memiliki keunggulan karena dapat dimanfaatkan sebagai pangan, pakan dan energi atau food, feed and fuel. Tanaman tropis tersebut juga dinilai mampu bertahan pada kondisi kekeringan. Bahkan, dalam kondisi El Nino, sorgum disebut tetap dapat tumbuh ketika tanaman lain mengalami penurunan pertumbuhan.
Dengan satu kali tanam, sorgum dapat dipanen hingga tiga sampai empat kali dan berpotensi tumbuh di berbagai jenis lahan, termasuk lahan kritis. Bagi Laxmi, pengembangan sorgum merupakan bagian dari upaya membangun komoditas pertanian masa depan sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat serta membuka peluang peningkatan pendapatan asli daerah. JEM






